SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Halaman 2 dari 3 Previous  1, 2, 3  Next

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  jaghana on Thu 19 May 2011, 08:10

Upasara bersorak dalam hati. Sekuat-kuatnya badan manusia, tulang punggung bukan
bagian yang boleh dibiarkan menerima pukulan. Secepat-secepatnya menjatuhkan diri, tak
mungkin bisa menghindari pukulan. Memang begitu kenyataannya. Upasara merasa bahwa tangannya
bukan mengenai punggung, tetapi kepala. Karena lawan menjatuhkan diri. Tetapi kepala
juga sama lemahnya dalam penjagaan. Hanya saja di luar segala perhitungannya, kepala
Jaghana ternyata sangat licin. Sehingga emposan tenaganya seperti makin mendorong dirinya.
Tenaganya justru menyeret, seperti orang terpeleset. Tak ada jalan lain, selain menyelamatkan
diri. Upasara berjumpalitan satu setengah agar bisa berdiri tegak.
Ia memang berhasil berdiri tegak. Akan tetapi ini pertanda surut. Dari menggempur, dalam
satu gebrak saja sudah mundur dan bertahan. Perubahan mendadak yang secara serentak
membalik situasi.
Upasara siap untuk menerima serangan. Tapi Jaghana, si pantat gundul, hanya memandang
sambil tersenyum.
"Anak muda, sungguh luar biasa. Serangan yang mengagumkan. Saya tak pernah menyangka
bahwa dunia sudah sedemikian majunya. Siapa mengira anak muda yang masih bau
kencur ini mempunyai kepandaian luar biasa. Selamat, selamat."
Sebenarnya apa yang diucapkan Jaghana adalah ucapan yang jujur. Sesuatu yang nampaknya
melekat sebagai sikap Perguruan Awan. Mereka memang sering dikatakan hidup dengan
cara yang sangat ganjil dan tak menentu, akan tetapi mereka dikenal sebagai orangorang
yang jujur. Satu kata satu perbuatan. Apa yang putih tak bakal dibilang hitam. Pujian ini
juga pujian yang jujur. Akan tetapi bagaimana mungkin Upasara bisa menelan kata-kata semacam
itu?
Pertama, ia seorang bangsawan yang belum pernah mendapat perlakuan begitu "kurang
ajar". Kedua, kata-kata "anak muda yang masih bau kencur" sangat menyinggung perasaannya.

jaghana
Registered Sellers
Registered Sellers

Jumlah posting : 7111
Join date : 01.07.10
Age : 39
Lokasi : matraman jak-tim 085217314302. pin BB 2843A31C

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  jaghana on Thu 24 Nov 2011, 11:31

Ia tak menangkapnya sebagai pujian bahwa sesungguhnya anak seusianya belum tentu
bisa menguasai jurus-jurus tadi dengan baik. Berarti masa depannya cukup bagus. Perbedaan
latar belakang ini masih ditambah lagi bahwa Upasara tak cukup sabar.
"Kita lihat siapa yang bau kencur dan siapa yang bau bawang merah," ujarnya keras
sambil terus menyeruduk. Karena merasa kalah dalam serangan pertama, Upasara menyerang
dengan tenaga penuh. Kedua kakinya memancal tanah, jotosannya mengarah ke depan. Kedua-
duanya. Hanya kali ini dalam perjalanan pergelangan tangan ini berputar seperti menyerap
tenaga lawan. Menyerap, memutar, dan mengarahkan pada si pemilik sendiri.
Jaghana juga menjadi berhati-hati. Ia meloncat tinggi, tidak berusaha menghindar jarak
pendek atau memapaki serangan. Sambil meloncat tinggi, seperti memantul, tubuhnya berputar.
Serangan balasan yang dilancarkan dengan berputar bukan hanya berbahaya bagi lawan,
tapi juga berbahaya bagi diri sendiri.

jaghana
Registered Sellers
Registered Sellers

Jumlah posting : 7111
Join date : 01.07.10
Age : 39
Lokasi : matraman jak-tim 085217314302. pin BB 2843A31C

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  zeus on Sat 26 Nov 2011, 13:20

lanjut bang... bounce bounce bounce kesimpulan cerita menurut aku...
- jangan pernah memandang seseorang dengan sebelah mata (meremehkan orang)
- jangan merasa bisa...tapi yang bisa merasa...
lanjut...pingin tau ending-nya... bounce bounce bounce

zeus
Kolonel
Kolonel

Jumlah posting : 558
Join date : 05.09.11
Lokasi : Banyuwangi/Pin BB: 20CEB20D

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  AyamUruk on Sun 27 Nov 2011, 08:03

Ternyata Eko Jaghana itu artinya anak pertama bermuka pantat alias Eko si Muka Pantat.
Waduh baru ngeh artinya neh..
Thanks ya mas Eko atas infonya..
hehe... piss

AyamUruk
Kapten
Kapten

Jumlah posting : 341
Join date : 27.10.11

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  jaghana on Mon 28 Nov 2011, 09:27

Wilanda yang pernah berada dalam perguruan yang sama, sedikitnya mengetahui hal
ini. Harus diakui serangan sambil berputar adalah serangan yang mengandung risiko. Lawan
memang bisa bingung, mau menyerang kepala bisa keliru pantat, mau menerjang dada bisa
keliru kaki. Itu pun tenaganya tak akan mengena separuhnya, karena sebagian besar sudah
dinetralisir dengan gerakan berputar. Akan tetapi menyerang berputar perlu mengerahkan tenaga
dalam yang kelewat banyak. ini bukan untuk pertempuran jangka panjang. Agaknya Jaghana
ingin menyelesaikan pertandingan dalam waktu singkat. Kenyataan ini saja sebenarnya
sudah harus membuat Upasara merasa bangga. Tak begitu banyak kesempatan seorang ksatria
semacam dia menemukan lawan yang langsung mengeluarkan langkah-langkah rahasia berikut
kuncinya.
Ditilik dari sudut ini, Upasara boleh dibilang sangat beruntung. Dalam usianya yang
masih muda ia boleh dikatakan bisa mengimbangi lawan yang jauh lebih tua, lebih berpengalaman,
dan sudah mempunyai nama besar.
Kalau pada gebrakan pertama tadi ia dibuat bertahan, itu semata-mata karena soal pengalaman.
Bukan soal perbedaan ilmu.
Menghadapi lawan yang bergulung, Upasara mengubah gerakannya. Ia tak mau mengeluarkan
tenaga keras, karena bisa terseret lawan. Ia melengkungkan tubuh, meloncat terbalik,
dan kemudian masuk ke dalam pusaran lingkaran.

jaghana
Registered Sellers
Registered Sellers

Jumlah posting : 7111
Join date : 01.07.10
Age : 39
Lokasi : matraman jak-tim 085217314302. pin BB 2843A31C

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  jaghana on Fri 02 Dec 2011, 15:01

Wilanda mengeluarkan pekik tertahan.
Ia tak menyangka sama sekali bahwa Upasara akan mengimbangi lawan dengan gerakan
yang sama. Dengan saling melibat diri, berarti pengurasan tenaga secara besar. Dan kalau
sedikit saja alpa, satu jari saja menyentuh bagian lunak dari wajah bisa berakibat fatal seumur
hidup. Lima kali kedua tangan lawan beradu. Suaranya terdengar bagai dua batu ditumbukkan.
Upasara kaget karena tangan lawan seperti mempunyai sengat. Setiap kali beradu, ia cepat
menarik tangan dan mengganti dengan sabetan kaki. Namun ini pun mengalami hal yang
sama. Yang tak diketahuinya ialah bahwa agaknya Jaghana pun mengalami hal sama. Sengatannya
seperti tak bisa menusuk langsung. Beberapa bagian tenaganya bisa ditolak.
Sepuluh jurus berlalu tanpa ada yang memisah.
Tanpa ada tanda-tanda kalah.
Tanpa ada yang menyerah.
"Kisanak Jaghana, maafkan kami..." Wilanda tetap bersujud. Suara perlahan tapi mengiang.

"Upasara, cukup." Terdengar suara mantap. Ngabehi Pandu mengucap seperti menggertak.
Dan betapapun berangasan dan congkak, Upasara agaknya ada rasa takut kepada pamannya.
Ia mengunci diri dan bergulung keluar satu tombak. Untuk bisa berdiri tetap, ia masih
memerlukan beberapa tindak lagi.
Sementara Jaghana tetap berdiri tegak sambil tersenyum.
"Sudah kurang ajar, kalah, masih berlagak?" Pandu berteriak.
Upasara menghela napas. Lalu berjongkok menghaturkan sembah.
"Maaf, Paman Gundul. Saya terlalu lancang dan kurang ajar. Saya menerima kalah."
Dari ucapannya terkesan bahwa Upasara sebetulnya masih belum mau menyerah. Sebutan Paman
Gundul menandai kedongkolannya.
"Ah, jangan terlalu merendahkan diri dan mengangkat lawan terlalu tinggi. Nama saya
memang Jaghana, tak pantas dipanggil Paman Gundul. Walaupun antara pantat dan kepala
gundul tak ada bedanya. Tapi letaknya yang satu di atas dan lainnya di bawah. Silakan berdiri,
anak muda."
Ya, begitulah cara hidup Perguruan Nirada yang aneh. Bahkan untuk ngomong pantat
atau gundul saja tak ada bedanya. Tak merasa risi sama sekali.

jaghana
Registered Sellers
Registered Sellers

Jumlah posting : 7111
Join date : 01.07.10
Age : 39
Lokasi : matraman jak-tim 085217314302. pin BB 2843A31C

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  zhembrawhoetz on Fri 02 Dec 2011, 16:23

jaghana wrote:KOKOK ayam jantan pagi itu tak terdengar. Cengkerik juga tak sempat memperdengarkan
musik akhir. Bahkan tetesan embun belum sepenuhnya mengental, ketika tiga ekor kuda melintas
dengan tergesa. Suasana desa yang tenteram, hutan rimbun yang sunyi berubah serentak
dengan suara bising. Tapak kuda menderap makin cepat dan rapat menyatu dengan dengusan
napas kuda kelelahan. Ketiga penunggang kuda itu pun kalau diperhatikan cermat, sudah basah
kuyup oleh keringat.
Robeknya alam pagi yang damai, seakan menandai terjadinya suatu peristiwa. Peristiwa
yang berbeda dari sebelumnya—setidaknya puluhan tahun terakhir ini. Jalan setapak di desa
tanpa, nama itu tak pernah terusik apa-apa. Bahkan sangat jarang sekali terdengar langkah kaki
manusia. Binatang pun hanya sesekali, pada malam hari.
Akan tetapi sekali, kali ini, dipecahkan oleh rombongan tiga ekor kuda yang tergesa.
Sampai di ujung jalan, mereka tak bisa sejajar lagi. Terpaksa berurutan karena jalan terhalang
dahan, ranting, dan pohon tumbang. Dari bawah menguap bau tanah. Angin sangat bersih.
Menyeberangi sungai kecil yang airnya dangkal, ketiga penunggang kuda itu kemudian
memacu lagi. Kalau saja di sepanjang jalan itu ada rumah, pastilah penghuninya terheran-heran.
Suatu pemandangan aneh dan baru; tiga ekor kuda perkasa melintas tergesa. Bau tubuh
mereka seakan asing untuk suasana sekitar yang sepenuhnya berbau daun dan tumbuh-tumbuhan.
"Benarkah ini jalannya?" tanya salah seorang penunggang kuda yang nampaknya paling
muda. Namun dari nada bicaranya kentara sekali ia yang menjadi pemimpin. Setidaknya yang
paling dihormati. Bukan karena wajahnya yang bersih—yang membedakannya dari kedua penunggang
yang lain, juga bukan karena alis matanya yang tebal dengan sorot mata memerintah,
akan tetapi terutama sekali dari sikap hormat yang diajak bicara.
"Benar, Raden Mas. Tak ada yang berubah sejak lima belas tahun lalu hamba lewat di
sini."

jujur mas.... g tau maksudnya.... Very Happy

zhembrawhoetz
Kapten
Kapten

Jumlah posting : 205
Join date : 19.01.11
Age : 36
Lokasi : batang - jawa tengah

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  mr.plinstone on Sat 03 Dec 2011, 05:46

Lanjut Mas!. Enak banget baca postingan Mas jroot ini. Sumpah, seribu halamanpun pasti aku baca ( kira2 yang nulis mau gak ya??........)

mr.plinstone
kopral
kopral

Jumlah posting : 31
Join date : 14.01.10
Lokasi : LA Wadas Kab. Karawang

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  jaghana on Mon 05 Dec 2011, 11:03

"Wilanda menyampaikan sembah bekti."
"Saya tak bisa menerima kehormatan ini," lalu sambil melirik ke arah Ngabehi Pandu,
suaranya jadi penuh hormat. "Terima kasih atas pertolongannya. Kalau saja tidak dihentikan
tadi, saya tak bisa mengelus kepala lagi. Ternyata nama besar Ngabehi Pandu terlalu kecil untuk
menunjukkan hal yang sebenarnya. Terimalah salam saya."
Wilanda maju ke depan.
"Kisanak Wilanda, rasanya baru kemarin kita berpisah. Tapi kini Kisanak sudah hidup
enak mempunyai pakaian bagus dan kuda bagus. Aha, kapan lagi mengajak saudara lama
ini?"
Kalimatnya setengah menyindir setengah mengalem. Sulit dibedakan.
"Kerinduan saya tak bisa diutarakan lagi. Namun kali ini, saya datang membawa perintah
Baginda Raja."
"O, jadi kalau punya pakaian dan kuda bagus harus begitu, ya? Siapa itu Baginda Raja?"
Upasara merasa darahnya mendidih lagi. Kalau tadi kurang ajar keterlaluan, sekarang
ini sudah buyutnya keterlaluan. Tak ada ampunan. Maka sekarang ini tanpa bertanya ba atau
bu langsung saja menerjang. Kali ini malah langsung dengan keris saktinya. Ujung keris tergetar
karena menahan dendam. Yang diarah pun tak kepalang tanggung. Tenggorokan.
Ini sebenarnya merupakan jurus pamungkas, atau jurus terakhir dari rangkaian serangan
ilmu banteng yang disebut Banteng Ketaton, atau Banteng Terluka. Serangan ini biasanya
hanya muncul kalau keadaan sudah betul-betul kepepet, tak ada jalan keluar sama sekali. Seperti
banteng yang terluka tak ada harapan lagi. Dengan sekali gempur, bisalah mendahului
lawan, atau setidaknya mati bersama. Dengan jurus ini semua tenaga dihimpun ke ujung keris.
Sehingga bagian yang lain tidak sepenuhnya terlindungi. Kalau saat itu lawan menyobek perut
atau menotok urat nadi di leher, tak ada halangan yang berarti. Akan tetapi juga dengan
demikian Upasara bisa meneruskan niatnya. Kalau lawan mengurungkan niatnya, berarti Upasara
terbebas dari sergapan untuk sementara.

jaghana
Registered Sellers
Registered Sellers

Jumlah posting : 7111
Join date : 01.07.10
Age : 39
Lokasi : matraman jak-tim 085217314302. pin BB 2843A31C

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  jaghana on Sat 10 Dec 2011, 07:46

Dan Upasara mengeluarkan jurus Banteng Terluka meskipun sama sekali tidak dalam
keadaan terjepit. Wilanda mengeluarkan seruan tertahan. Langsung bersamaan dengan itu tubuhnya
meloncat keras dan menubruk Jaghana. Caranya sedemikian rupa sehingga punggungnya
yang dibiarkan terbuka. Dalam detik yang pendek ia ternyata tak berpikir untuk nyawanya
sendiri.
Jaghana sendiri nampaknya tidak memperhitungkan bahwa seorang anak muda bisa begitu
telengas dan ringan tangan untuk mengeluarkan jurus maut. Alisnya berkerut tapi tak
sempat menghindar.
Hanya karena Ngabehi Pandu bergerak lebih dulu. segalanya berakhir tanpa ada yang
terluka. Sebagai tokoh yang menciptakan jurus itu. Ngabehi Pandu tahu kelemahannya. Dua
jarinya menghadang pergelangan tangan Upasara, dan disertai entakan tenaga dalam, keris itu
terloncat dan tangan Upasara. Melesat ke udara. Ngabehi Pandu menggerakkan tubuhnya meloncat,
menyambar keris, dan sebelum kakinya menyentuh tanah ia bisa mengembalikan lagi
ke sarung keris yang terselip di punggung Upasara. Suatu gerakan indah bagai tarian yang
memesona. Dengan sekali gebrak, tiga gerakan berbahaya dilakukan. Menggagalkan serangan
dengan melontarkan keris ke udara, menangkap, dan mengembalikan ke sarungnya yang masih
dipakai pemiliknya.
Ngabehi Pandu menunduk.
"Maafkan, kami yang tua ini tak bisa mendidik anak."
Jaghana berdiri tegak, lalu membalas hormat dan menghela napas.
"Yang tua makin arif, yang muda makin sulit dikendalikan. Anak muda, kau berbakat
besar, mempunyai guru yang sungguh luar biasa. Di belakang hari nanti tanah Jawa menjadi
ramai karenanya.
“Luar biasa. Sayang aku si pantat bulat tak bisa menyaksikan semua ini. Setelah nyawa
yang tak berharga ini diselamatkan berkali-kali rasanya tak pantas menjadi murid Nirada lagi."
Suaranya berubah parau. "Eyang Sepuh, mohon ampun... murid Eyang memang tak pantas
berdiam di sini." Lalu disertai helaan napas, Jaghana berlalu.
"Tunggu, Kisanak. Ada yang ingin kami ketahui."
"Kanjeng Ngabehi, nyawa yang hina telah Ngabehi tolong. Kalau ada yang bisa saya lakukan
untuk Ngabehi, mati pun saya rela melakukannya."
"Jangan terlalu sungkan, Kisanak. Ini semua karena kesalahan kami. Sesungguhnya kami
datang untuk menemui Eyang Sepuh."
"Sedih sekali rasanya. Untuk permintaan yang tak berarti itu saya tak bisa menjawab.
Saya sendiri tak tahu di mana beliau berada."
"Ah," Wilanda mengeluarkan suara tertahan.
Ngabehi Pandu menghela napas. Dengan pengalaman yang sudah setua umurnya, ia tahu
bahwa Jaghana tidak berdusta sama sekali.
"Satu pertanyaan lagi. Apakah dalam sebulan ini ada Tamu dari Seberang datang kemari?"

jaghana
Registered Sellers
Registered Sellers

Jumlah posting : 7111
Join date : 01.07.10
Age : 39
Lokasi : matraman jak-tim 085217314302. pin BB 2843A31C

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  jaghana on Mon 12 Dec 2011, 23:21

Jaghana menampilkan senyum. Senyum getir.
"Entah kenapa begitu banyak yang menanyakan hal yang sama. Hal yang saya sendiri
tidak tahu. Ketika Eyang Sepuh memilih desa tanpa nama ini rasanya sudah tak ada tempat lain yang lebih sunyi. Akan tetapi nyatanya sekarang ini jadi tempat berkumpul para jagoan di
seluruh jagat. Oi, tak ada lagi tempat sepi."
Begitu selesai ucapannya, terlihat dua bayangan melesat datang. Seorang lelaki tua yang
seluruh rambutnya putih nampak menjinjing kadut-kantong karung dari serat pohon-besar. Seorang
lagi adalah seorang bocah, yang nampak ganjil karena wajahnya seperti merah membara.
Dua manusia aneh yang berdiri berjajar aneh. Lelaki tua berambut putih dan seorang
bocah berwajah merah.
"Nah, kita di sini dulu, Tole. Mendengarkan orang bicara," kata lelaki tua berambut putih.
Yang dipanggil sebagai tole-artinya anak lelaki kecil- tidak menjawab, hanya memandang
selintas. Lalu duduk di rumput.
Wilanda seperti terbangun dari tidurnya. Memang aneh, di tempat yang kelewat sunyi
ini tiba-tiba datang dua orang yang namanya pernah menggetarkan Kali Brantas. Yang dipanggil
Tole adalah Padmamuka, alias Padmanaba, alias si Muka Merah. Yang tua berambut
perak dipanggil Niriti, alias Dewa Maut yang Kekal Abadi. Entah dari mana mereka mendapat
sebutan itu dan apa alasannya. Selama ini Wilanda tak pernah mendengar.
Karena selama ini keduanya hanya beroperasi di sepanjang Kali Brantas Menurut cerita,
keduanya tak pernah berada di daratan, selalu saja tengah sungai. Bahkan menurut dongeng,
mereka bertempat tinggal di salah satu kedung Brantas. Pasti ada sesuatu yang luar biasa kalau
sampai turun ke darat. Apalagi berada di daerah terpencil.
"Tole, mereka tidak ngomong lagi. Apa perlu kita paksa?"
"Semaumulah. Kau dewa maut yang bisa berbuat sekehendakmu. Apa susahnya memaksa
orang bicara mengenai Tamu dari Seberang?"
"Tole, siapa yang kita paksa pertama?"
"Siapa saja. Lebih baik dimulai dari yang paling jelek."
"Bagus. Bagus." Suara Niriti berubah gembira. Kadutnya bergoyang-goyang. "Kalian
semua sudah mendengar sendiri apa yang dikatakan cucuku ini. Ayo, mengaku saja. Siapa
yang paling jelek harap menyembah."
Padmamuka terkekeh.
"Kalau ditanya begitu, mereka pasti akan berebutan. Karena semuanya memang jelek.
Paksa saja semua."
"Itu juga bagus. Kalian semua sudah mendengar sendiri apa yang dikatakan cucuku ini.
Dan sesungguhnya, aku tak pernah menolak apa yang diminta cucuku. Baiklah. Kalian perlu
kupaksa atau langsung berterus terang di mana Tamu dari Seberang itu?"
"Agaknya Kali Brantas sudah kering. Tak ada ikan kecil lagi, sehingga nelayan sungai
cari makan di darat. Pengemis pun harus menunjukkan hormat kalau meminta sesuatu. Bukannya
omong besar."
Upasara yang maju ke depan. Agaknya ia yang paling muak dengan segala kesombongan
dan kecongkakan—barangkali juga karena ia memiliki sifat yang sama.
"Tole, ada yang berani berkata. Kau dengar?"
"Ya, tetapi tidak jelas maksudnya."
"Lalu bagaimana, Tole?"
"Suruh menjilat kakiku, agar lidahnya bisa ngomong ndak ngawur."

jaghana
Registered Sellers
Registered Sellers

Jumlah posting : 7111
Join date : 01.07.10
Age : 39
Lokasi : matraman jak-tim 085217314302. pin BB 2843A31C

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  upasara on Mon 12 Dec 2011, 23:51

mas jaghana .... aku terluka parah xixixixi Laughing Laughing Laughing cherry

upasara
kopral
kopral

Jumlah posting : 30
Join date : 08.09.11

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  jaghana on Wed 14 Dec 2011, 12:17

Niriti, si kakek berambut putih, tertawa terkekeh. "Nah, kamu dengar sendiri apa yang
dikatakan cucuku. Ayo lekas, jilat kakinya. Biar dewa bermurah hati hanya memotong lidah
bukan nyawamu. Lakukan, tunggu apa lagi?"
Hanya karena merasa terantuk batu pengalaman yang keras, Upasara tidak segera menyerang.
Coba saja tidak mengalami peristiwa yang baru saja terjadi, ia sudah langsung menerjang.
"Soal menjilat kaki apa susahnya. Tetapi kenapa harus melakukan itu, kalau ada soal
lain?"
"Tole, kau dengar siapa itu yang ngomong?"
"Maaf, namaku yang rendah adalah Wilanda. Salam hormat untuk Dewa Maut dan Padmamuka."
"Bagus. Itu bagus. Kamu menjawab dengan baik. Apa kau dari Perguruan Mendung
ini?"
Jelek-jelek Wilanda bekas murid Perguruan Nirada. Memang nirada bisa berarti awan,
tetapi juga bisa berarti mendung. Namun cara si kakek merendahkan dalam sebutan cukup
membuatnya panas.
"Saya hanya murid yang tak tercatat. Silakan memberi pelajaran."
Wilanda langsung mengambil kuda-kuda memberi hormat.
Ini berarti tantangan yang resmi. Tantangan seorang ksatria. Wilanda cukup menghormati
lawan untuk memulai dengan gerakan pembukaan, menghormat ke arah lawan. Kakek
tua itu langsung bergelak.
"Kalian manusia darat terlalu banyak sopan santun. Buka mulut di mana Tamu dari Seberang
atau bakal jadi makanan cacing."
Niriti meluncur, dalam artian sebenarnya. Tiba-tiba saja tubuhnya tertekuk, seperti gerakan
orang mau meloncat ke air. Dan benar-benar meloncat. Hanya bedanya kalau meloncat
ke air, tubuhnya turun ke bawah, yang ini meluncur ke depan lurus. Kedua tangannya terbuka
dan siap mencakar wajah. Wilanda menotol dengan ujung kakinya—tanpa menekuk lebih
dulu, atau memang tak terlihat saking cepatnya—dan tubuhnya melayang ke atas. Dari atas,
kedua kakinya ditekuk seakan ingin berdiri di punggung si kakek. Namun sebelum gerakan
itu sempurna, bentuknya sudah diubah lagi, karena Niriti memutar kakinya. Sehingga tubuhnya
menjauh dan cakar tangannya tetap mengarah ke lawan.
Meluncur bagai peloncat indah, sambil tetap menjinjing kadut besar dan dengan enak
bisa memutar di tengah udara. Semua bisa dilakukan sambil tetap menyerang. Kalau Upasara
yang disergap semacam itu, pasti sudah kelabakan. Wilanda jauh lebih berhati-hati.
Gaya capungnya dipertontonkan dengan indah. Tangan lawan yang mencakar dibentur
keras, dan meminjam, tenaga benturan ia melayang tinggi berjumpalitan di udara, lalu turun
di tanah, menotol lagi, menyerang ganti.
Kakek berambut putih itu mengeluarkan suara di hidung. Kali ini kadutnya dipakai untuk
memapak serangan. Wilanda bisa menjajal kemampuan lawan. Tetapi ia cukup cerdik untuk
memeras tenaga si kakek. Lagi-lagi ia meminjam tenaga kadut berputar untuk berjumpalitan,
meluncur turun, menotol tanah, dan balik menyerang.

jaghana
Registered Sellers
Registered Sellers

Jumlah posting : 7111
Join date : 01.07.10
Age : 39
Lokasi : matraman jak-tim 085217314302. pin BB 2843A31C

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  gubug on Wed 14 Dec 2011, 15:31

Pakdhe ,Wilanda kok mengeluarkan pekik tertahan pa ngempet mau Pipis enak ya.... : Shocked

gubug
Kapten
Kapten

Jumlah posting : 351
Join date : 04.01.11

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  kicksawunk on Wed 14 Dec 2011, 16:58

gubug wrote:Pakdhe ,Wilanda kok mengeluarkan pekik tertahan pa ngempet mau Pipis enak ya.... : Shocked

Setelah lama Bertapa Embarassed , akhirnya Tokoh dari Seberang muncul juga..kwak..kwak..kwakkk...!!!! cheers

kicksawunk
Kapten
Kapten

Jumlah posting : 398
Join date : 19.06.11
Lokasi : Demak-Solo-Pekanbaru

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  jaghana on Thu 15 Dec 2011, 09:29

kicksawunk wrote:
gubug wrote:Pakdhe ,Wilanda kok mengeluarkan pekik tertahan pa ngempet mau Pipis enak ya.... : Shocked

Setelah lama Bertapa Embarassed , akhirnya Tokoh dari Seberang muncul juga..kwak..kwak..kwakkk...!!!! cheers
bukan...dia bukan tokoh dari sebrang...tapi dia adalah sesuatu yg berada di dalam kandut NIriti, si kakek berambut putih....kee eke keeee... pirat

jaghana
Registered Sellers
Registered Sellers

Jumlah posting : 7111
Join date : 01.07.10
Age : 39
Lokasi : matraman jak-tim 085217314302. pin BB 2843A31C

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  jaghana on Thu 15 Dec 2011, 09:48

Taktik yang membuat Niriti terkesiap dan untuk beberapa kejap seperti bertempur dengan
angin kosong. Namun sebagai jago kelas satu yang menguasai daerah tertentu, dengan
cepat ia bisa menentukan cara untuk mengatasi. Kali ini ia menyerang dengan tenaga yang
lembek, hanya dua persepuluh saja. Sehingga Wilanda tak mungkin meminjam tenaganya.
Memang ini sempat mengacau Wilanda, namun cara mengentengkan tubuhnya boleh dibilang
sudah kelas satu. Sehingga meskipun tak terlalu keras, ia tetap bisa berjumpalitan, menotol
tanah, dan tetap menyerang.
"Kakek tua tak tahu diri. Apa susahnya menangkap capung?"
"Bagus, Tole. Nih, aku tangkap."
Serentak dengan itu Niriti mengayunkan karungnya dengan keras ke atas. Kedua tangannya
terentang lebar, lalu menutup dengan gerakan berputar, dan langsung menyerang lawan.
Wilanda tak menduga bahwa tenaga dalam si kakek sedemikian saktinya. Sehingga hawa
di sekitar dada dan wajahnya jadi panas dan sesak. Lalu secara cepat hawa panas dan menyesakkan
itu musnah, dan Wilanda seperti berada dalam ruang tanpa udara. Kekuatannya jadi
lenyap seketika. Tak ada jalan lain kecuali mengerahkan sisa kekuatan yang tersimpan di
bawah pusar. Tubuhnya berputar pendek, seirama dengan tangan yang melingkar ke depan dengan
sangat cepat. Dalam setiap ajaran silat, gerakan ini sangat umum dan mudah dikenali
sebagai gerakan untuk mencari tenaga dari bumi. Hanya dengan latihan yang keras dan konsentrasi
penuh, "kekuatan bumi" ini bisa dipinjam. Kalau dasarnya tidak mempunyai tenaga
dalam, yang diisap adalah tenaga kosong belaka. Sebenarnya ini gerakan yang sangat efektif.
Hanya saja karena merupakan gerakan umum, lawan pun melakukan. Jadi boleh diartikan siapa
yang lebih dulu mengambil tenaga dari bumi. Niriti bukannya mengambil, melainkan
membuyarkan dengan sapuan kakinya.
Terkurung dalam lingkaran pukulan Niriti, Wilanda mengempos kekuatannya. Ia menekuk
lutut dan melompat ke atas. Dalam keadaan biasa hal itu tak perlu dilakukan. Seakan tanpa
menekuk pun bisa meloncat, Akan tetapi kekuatan ini diperlukan, karena kedua tangan Niriti
tak akan membiarkan bebas.
Ini berarti adu tenaga.
Wilanda mengegos sedikit untuk melunakkan tenaga lawan, dan tubuhnya mumbul ke
atas. Agaknya ini pun sudah diperhitungkan Niriti ketika melemparkan kadutnya ke atas. Bersamaan
dengan itu, kadut itu bakal menimpa tubuhnya. Paling tidak ia bisa menjotos. Hanya
saja kesadarannya yang tinggi menahan gerakan itu.
Berarti kadut itu berisi manusia. Astaga. Siapa pula yang berada di dalamnya? Kalau seseorang
yang sedang menderita, bisa saja menjadi luka atau bahkan meninggal dunia. Jiwa
ksatria Wilanda menahan pukulan itu. Akibatnya memang gerakannya jadi terganggu. Apalagi
ia justru berusaha menangkap kadut itu, menyebabkan pinggangnya terbuka. Niriti bersorak
dingin.
"Kena!"
Sebenarnya, sejak Niriti datang, Jaghana sudah melihat sesuatu yang aneh. Sesuatu
yang mencurigakan dari kadut. Makin jelas ketika kadut itu dilemparkan ke atas. Mendengar
suara rintihan, Jaghana bahkan mengenali nada rintihannya. Tak ayal lagi ia langsung menyerbu
ke arah pertempuran. Hanya saja terlambat.
Kadut itu sudah ditangkap oleh Wilanda yang pinggangnya serasa patah Namun walau
begitu dalam jatuhnya, ia masih membiarkan dirinya lebih dulu. Wilanda tetap memegang karung
itu dengan sakit yang serentak menjalar ke arah perutnya.

jaghana
Registered Sellers
Registered Sellers

Jumlah posting : 7111
Join date : 01.07.10
Age : 39
Lokasi : matraman jak-tim 085217314302. pin BB 2843A31C

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  gubug on Thu 15 Dec 2011, 11:57

kicksawunk wrote:
gubug wrote:Pakdhe ,Wilanda kok mengeluarkan pekik tertahan pa ngempet mau Pipis enak ya.... : Shocked

Setelah lama Bertapa Embarassed , akhirnya Tokoh dari Seberang muncul juga..kwak..kwak..kwakkk...!!!! cheers

Maafkan Aku pendekar Awan tapa brataku gagal karena digoda sama penampakan Sinden di bandungan....... Very Happy Very Happy Twisted Evil

gubug
Kapten
Kapten

Jumlah posting : 351
Join date : 04.01.11

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  jaghana on Thu 15 Dec 2011, 22:25

Niriti berbalik menghadapi Jaghana yang melancarkan pukulan dan samping kiri. Dewa
Maut hanya menggeser kepalanya sedikit, lalu balas menyerang. Di luar dugaan, Jaghana ti-
dak berusaha menghindar. Malah langsung menyapu lawan dengan keras. Jika mereka membiarkan
diri, keduanya akan terkena pukulan lawan. Dewa Maut mengegos ke samping. Tak
urung ikat kepalanya tercongkel sedikit. Lepas, dan rambutnya yang putih terurai ke depan.
Jaghana menjambak rambut itu dan menarik ke bawah sekuatnya, sementara kedua lututnya
terayun ke atas. Gaya membungkuk menyebabkan punggungnya terbuka. Namun seperti tidak
peduli, Jaghana terus merangsek lawan. Dewa Maut mengeluarkan seruan tertahan dan menahan
benturan lutut dengan kedua tangannya. Terdengar bunyi plak yang sangat keras.
Biarpun Dewa Maut sangat hebat tenaga dalamnya, tak urung terguncang pula. Biar bagaimanapun,
kekuatan kaki Jaghana lebih tangguh dari daya tahan tangannya. Tubuhnya terdorong
ke belakang. Segenggam rambutnya lepas. Belum berdiri lurus, Jaghana sudah memutar
tubuhnya dan bagai pusaran angin beliung langsung menggulung lawan.
Baru kini Upasara sadar bahwa Jaghana bukan sembarang jago. Tadi ia sudah menyaksikan
dan mengalami sendiri. Baru kini Upasara sadar bahwa tadi Jaghana tidak mengeluarkan
seluruh tenaganya. Kalau tadi ia diserang dengan cara seperti ini, barangkali tubuhnya sudah
terlipat bagai tali pelintiran.
Jaghana adalah tokoh yang mempunyai watak sabar, pikir Upasara. Bahwa ia menjadi
begitu geram dan menyerbu tanpa memikirkan keselamatan dirinya, ini pasti ada yang menyebabkan.
Tak mungkin orang yang begitu ramah, sabar, dan suka tersenyum menjadi nekat tanpa
sebab. Hanya saja Upasara tidak mengetahui apa yang membuat Jaghana begitu bernafsu.
Mungkin ia juga tetap tak tahu, kalaupun mengetahui, bahwa isi kadut itu salah seorang dari
Perguruan Awan. Dasar-dasar yang kuat dari perguruan ini adalah rasa setia kawan sesama
anggota perguruan. Bahwa dasar ini berlaku di setiap perguruan, itu tak ada yang membantah.
Hanya pada Perguruan Awan, dasar ini memperoleh bentuknya, yang kadang sangat ekstrem.
Seperti diketahui, dalam perguruan ini tak ada perbedaan antara murid yang satu dan yang
lain.
Soal ilmu dibagi rata, soal pemilikan tak ada yang mempersoalkan. Ini barangkali bedanya
dari perguruan lain. Di Perguruan Awan tak ada tingkat yang berbeda. Tak ada yang dianggap
senior atau yunior. Tak ada murid ketua atau wakil atau yang biasa.
Bahkan Eyang Sepuh sendiri, yang dianggap ketua, mendapat perlakuan yang sama.
Mereka semua hidup di hutan secara bersama. Eyang Sepuh pun harus menanam sayur atau
mencari sendiri buah-buahan. Mereka berlatih bersama dan belajar bersama.
Hal ini mudah diduga kenapa Wilanda mau mengorbankan dirinya ketika mengetahui
ada saudara seperguruan yang tersimpan dalam kadut. Walaupun itu sudah lewat bertahuntahun
dan ia hidup sebagai prajurit utama di Keraton, perasaannya masih sama.
Tak ada yang lebih mulia daripada membantu sesama. begitulah kira-kira salah satu
ajaran dari Eyang Sepuh. Barangkali itu pula sebabnya perguruan ini tak pernah memiliki
apa-apa. Pondok secuil pun tidak. Bahkan dalam bentuk yang juga berlebihan. mereka tak
memerlukan pakaian penutup tubuh—semuanya diberikan pada orang lain yang dianggap memerlukan.
Ajaran yang mendarah daging ini boleh dikatakan menjadi undang-undang tak tertulis.
Barang siapa merasa perlu memiliki sesuatu—apa pun, walau seikat rumput—untuk kepentingan
sendiri, ia tak diakui lagi sebagai anggota. Wilanda dulu juga begitu. Karena merasa
perlu untuk memperdalam ilmu meringankan tubuh, ia perlu mencari guru di tempat lain. Ia
merasa dirinya tak pantas menjadi murid lagi, dan minta keluar dari hutan. Sejak itu beberapa
kali Wilanda ganti guru, menjajal kemampuan. Perjalanan hidup mempertemukannya dengan
Ngabehi Pandu yang tertarik pada tekad besarnya.

jaghana
Registered Sellers
Registered Sellers

Jumlah posting : 7111
Join date : 01.07.10
Age : 39
Lokasi : matraman jak-tim 085217314302. pin BB 2843A31C

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  jaghana on Mon 02 Jan 2012, 15:03

Sementara itu di tengah lapangan, Jaghana terus berputar menggulung. Sepertinya ia
akan membelitkan tubuhnya ke tubuh Dewa Maut dan mereka berdua bakal terpelintir jadi
satu. Dewa Maut terdesak menghadapi gempuran habis-habisan ini. Sejak ia masuk daratan,
belum pernah bertemu lawan setangguh dan senekat ini. Lagi pula ia baru saja menghadapi
Wilanda yang dalam beberapa hal ilmunya berbeda sekali dari Jaghana. Wilanda jauh lebih
mengandalkan ilmu mengentengkan tubuh. Berkelit ke sana. membelok kemari. Sementara
Jaghana sama sekali mengandalkan kekuatan menggempur. Sebagai seorang yang tergolong
kelas satu, hal ini sebenarnya bukan masalah utama. Hanya saja waktunya berurutan, dan lawan
yang dihadapi sekarang seperti tidak ingin memperpanjang waktu. Dalam jangka pendek
saja—tanpa peduli menang atau kalah. hidup atau mati.
"Hei, tahu diri dikit," teriak Tole yang masih duduk di tanah. "Kalau berputar macam
begitu kau bisa kentut. Dan aku tak suka."
Padmamuka menggelinding maju.
Wilanda masih merasa perutnya bagai ditusuk-tusuk. Jangan kata untuk bergerak, untuk
mengambil napas pun sakitnya tak tertahankan. Akan tetapi melihat Tole maju, ia tak bisa menahan
diri.
Dengan mengempos tenaga terakhir ia meloncat untuk mencegat gelundungan Padmamuka.
Keduanya bertemu, berbenturan, dan Wilanda terbanting. Muntah darah.
Upasara mencabut kerisnya. Dalam keadaan terluka Wilanda sekilas masih melihat
Upasara menghalangi gelundungan Padmanaba dengan, lagi-lagi, rangkaian jurus Banteng
Ketaton.
Dalam banyak hal, Upasara adalah seorang yang boleh dikatakan congkak. Kesombongannya
karena lingkungan yang memanjakan. Namun sebagai seorang ksatria yang banyak
menerima ajaran silat—dan biasanya ajaran seperti ini tidak berdiri sendiri, selalu dengan sikap-
sikap yang lain— ia tak tega melihat Wilanda yang sudah muntah darah diserang. Pun kalau
Wilanda bukan orang dekatnya, Upasara bisa maju menolong.
"Anak kecil, kau tak usah ikut."
Padmanaba meraih pergelangan tangan Upasara dengan gaya meyakinkan. Yakin bahwa
dengan sekali gebrak ia bakal bisa merebut keris lawan. Perhitungan ini cukup beralasan.
Padmamuka bisa melihat sejak pertama tadi, bahwa di antara yang hadir Upasara paling lemah.
Apalagi dandanannya sama sekali tidak mencerminkan seorang pendekar. Pakaian yang
dikenakan terlalu bagus. Ikat kepalanya juga milik para pangeran yang biasa digunakan dalam
upacara besar, mewah. Kerisnya bertatahkan intan. Gelang kakinya dibuat dari emas murni.
Mana ada pendekar silat sempat berpakaian begitu necis?
Upasara sendiri memang sangat cerdik. Bahwa Ngabehi Pandu mau menerimanya sebagai
murid tunggal, pasti ada alasan kuat. Ngabehi Pandu melihat bahwa Upasara mempunyai
ketajaman yang luar biasa dalam membaca persoalan. Ajaran yang diberikan Ngabehi tak
pernah diulang. Sekali dengar bisa dipraktekkan dan dikembangkannya.
Menyadari dirinya sudah dibikin keok pada awal pertarungan tadi, Upasara memanfaatkan
ini. Ia sengaja menyerang dengan cara yang tidak terlalu rumit. Jebakannya berhasil. Lawan
mencengkeram tangan kanannya dalam usaha merampas keris. Memang itu berhasil,
akan tetapi yang tak diperhitungkan si wajah merah adalah bahwa tangan kiri Upasara bisa
mengambil oper keris itu dan langsung menikam! Semua terjadi dalam satu gerakan tanpa
putus. Ini merupakan rangkaian jurus Banteng Terluka, di mana Ngabehi Pandu menciptakan
dari serangan banteng. Tanduk kiri atau kanan sama saja!

jaghana
Registered Sellers
Registered Sellers

Jumlah posting : 7111
Join date : 01.07.10
Age : 39
Lokasi : matraman jak-tim 085217314302. pin BB 2843A31C

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  alang on Mon 02 Jan 2012, 15:43

Wah seru...kalo yg ini bener2 OOT.....ga ada "ayam" sama sekali dari sekian halaman yg diposting....hahahaha....
Piss om jagh........ Razz Razz Razz Razz

alang
Kolonel
Kolonel

Jumlah posting : 988
Join date : 28.07.09
Age : 44
Lokasi : Ciputat, Tangerang

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  D4v1d on Mon 02 Jan 2012, 15:51

alang wrote:Wah seru...kalo yg ini bener2 OOT.....ga ada "ayam" sama sekali dari sekian halaman yg diposting....hahahaha....
Piss om jagh........ Razz Razz Razz Razz

KOKOK ayam jantan pagi itu tak terdengar

Itu ada tulisan ayamnya kang....hehehehe....tapi tetep ga ngerti ceritanya.... Razz

D4v1d
Kapten
Kapten

Jumlah posting : 448
Join date : 20.10.09
Lokasi : Buitenzorg

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  alang on Mon 02 Jan 2012, 15:55

D4v1d wrote:
alang wrote:Wah seru...kalo yg ini bener2 OOT.....ga ada "ayam" sama sekali dari sekian halaman yg diposting....hahahaha....
Piss om jagh........ Razz Razz Razz Razz

KOKOK ayam jantan pagi itu tak terdengar

Itu ada tulisan ayamnya kang....hehehehe....tapi tetep ga ngerti ceritanya.... Razz

Walah.... sy kelewatan baca euy.....
Hrs minta maaf nih sm om jagh.....msh In Of Topic berarti yah.....hehehe......

alang
Kolonel
Kolonel

Jumlah posting : 988
Join date : 28.07.09
Age : 44
Lokasi : Ciputat, Tangerang

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  jaghana on Tue 03 Jan 2012, 08:17

alang wrote:
D4v1d wrote:
alang wrote:Wah seru...kalo yg ini bener2 OOT.....ga ada "ayam" sama sekali dari sekian halaman yg diposting....hahahaha....
Piss om jagh........ Razz Razz Razz Razz

KOKOK ayam jantan pagi itu tak terdengar

Itu ada tulisan ayamnya kang....hehehehe....tapi tetep ga ngerti ceritanya.... Razz

Walah.... sy kelewatan baca euy.....
Hrs minta maaf nih sm om jagh.....msh In Of Topic berarti yah.....hehehe......
lha...banyak yg sms minta di lanjut terus...malah ada yg telpon dari padang jangan spotong2 katanya...do'i nyari bukunya gak dapat2.....
ya memang tujuannya biar gak bosan aja...bisa iseng buka papaji sambil baca buku....biar rame gak monoton.. pirat

jaghana
Registered Sellers
Registered Sellers

Jumlah posting : 7111
Join date : 01.07.10
Age : 39
Lokasi : matraman jak-tim 085217314302. pin BB 2843A31C

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  pacita on Tue 03 Jan 2012, 09:09

jaghana wrote:lha...banyak yg sms minta di lanjut terus...malah ada yg telpon dari padang jangan spotong2 katanya...do'i nyari bukunya gak dapat2.....
ya memang tujuannya biar gak bosan aja...bisa iseng buka papaji sambil baca buku....biar rame gak monoton.. pirat

ada tuh di gramed*** atau toko buku online lainnya. untuk edisi lengkap harga sekitar Rp 350 ribu belum termasuk ongkir. Pencinta sastra indonesia kayaknya wajib nih punya buku ini. Jangan ngaku penggemar arswendo tp gak punya bukunya..... hehehehe

pacita
Kolonel
Kolonel

Jumlah posting : 768
Join date : 25.10.10

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  Sponsored content Today at 07:25


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Halaman 2 dari 3 Previous  1, 2, 3  Next

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik