SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Halaman 3 dari 3 Previous  1, 2, 3

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  kicksawunk on Tue 03 Jan 2012, 03:17

jaghana wrote:
alang wrote:
D4v1d wrote:
alang wrote:Wah seru...kalo yg ini bener2 OOT.....ga ada "ayam" sama sekali dari sekian halaman yg diposting....hahahaha....
Piss om jagh........ Razz Razz Razz Razz

KOKOK ayam jantan pagi itu tak terdengar

Itu ada tulisan ayamnya kang....hehehehe....tapi tetep ga ngerti ceritanya.... Razz

Walah.... sy kelewatan baca euy.....
Hrs minta maaf nih sm om jagh.....msh In Of Topic berarti yah.....hehehe......
lha...banyak yg sms minta di lanjut terus...malah ada yg telpon dari padang jangan spotong2 katanya...do'i nyari bukunya gak dapat2.....
ya memang tujuannya biar gak bosan aja...bisa iseng buka papaji sambil baca buku....biar rame gak monoton.. pirat


Yeee.....Putus Lagi Evil or Very Mad Evil or Very Mad Evil or Very Mad .........., Lanjut Euiy.................!!! Arrow Arrow

Pokoke Bapake (galihmoko MODE ON) Hadiah Lancur menanti begitu cerita ini Selesai!! cheers
Selingi KUIS jg Dong...???? albino

kicksawunk
Kapten
Kapten

Jumlah posting : 398
Join date : 19.06.11
Lokasi : Demak-Solo-Pekanbaru

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  jaghana on Wed 04 Jan 2012, 02:43

pacita wrote:
jaghana wrote:lha...banyak yg sms minta di lanjut terus...malah ada yg telpon dari padang jangan spotong2 katanya...do'i nyari bukunya gak dapat2.....
ya memang tujuannya biar gak bosan aja...bisa iseng buka papaji sambil baca buku....biar rame gak monoton.. pirat

ada tuh di gramed*** atau toko buku online lainnya. untuk edisi lengkap harga sekitar Rp 350 ribu belum termasuk ongkir. Pencinta sastra indonesia kayaknya wajib nih punya buku ini. Jangan ngaku penggemar arswendo tp gak punya bukunya..... hehehehe
kalau di gramedia matraman sih banyak...tapi gramedia lain apalagi daerah belum tengtu ada coy.....apa perlu ni buku gw bisnisin..?? keeekeeeeeekeeeeeee.... pirat

jaghana
Registered Sellers
Registered Sellers

Jumlah posting : 7111
Join date : 01.07.10
Age : 39
Lokasi : matraman jak-tim 085217314302. pin BB 2843A31C

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  jaghana on Wed 04 Jan 2012, 02:51

Kalau yang kiri tak bisa, yang kanan akan sampai juga.
Padmamuka tak menduga bahwa "anak kecil" yang berpakaian model bangsawan pelesiran
ini menguasai dengan baik perubahan secara mendadak. Cepat sekali ia mengibaskan
tangan Upasara dengan maksud agar tangan Upasara sendiri yang menangkis kerisnya. Ini juga
yang tak diduga olehnya. Tangan kanan Upasara memang bisa dikibaskan semaunya akan
tetapi justru ini untuk menyambut keris dari tangan kiri dan sekaligus mengarah ke tengah dada.
Harus diakui bahwa dalam soal bertempur, Upasara tidak memperhitungkan apakah serangannya
terlalu ganas atau tidak. Pertimbangan semacam itu belum merasuk dalam dirinya.
Kalau bisa menyerang, ia akan menyerang sepenuhnya. Kalau bisa menusuk dada kenapa
harus dibelokkan ke arah lengan.
Ini karena Upasara masih berusia muda, di samping soal tenggang rasa, tak pernah dirasa
perlu diperhatikan. Ia tak biasa mengalah. Bahkan untuk tunduk pada orang lain pun, rasanya
ogah. Satu-satunya yang didengar dan dipatuhi hanya Ngabehi Pandu. Selama Ngabehi
Pandu tidak melarang, ia merasa yang dilakukannya adalah benar.
Walau ilmunya lebih tinggi dan pengalamannya lebih kaya. saat ini Padmamuka tak
mempunyai kesempatan untuk lolos dengan mulus. Sambil menggertak keras, ia paksa membuang
tubuh sejauh mungkin. Tak urung keris lawan menyerempet baju bagian atas serta memotong
kain. Kulit ari di dada teriris panjang ke bawah hingga paha! Kalau saja Upasara meloncat
sekali dan menancapkan kerisnya, Padmamuka bisa berubah nama menjadi Pandumuka,
alias si muka pucat karena jadi mayat.
Upasara sebenarnya tidak bermurah hati. Ia tak menyangka sama sekali lawan masih
bisa lolos. Dalam perhitungannya kerisnya bakal amblas di dada lawan. Dasar cerdik, Upasara
mengeluarkan suara mengejek di hidung sambil membanting kerisnya amblas ke tanah
"Hari ini aku masih bermurah hati. Kutitipkan nyawa tak berguna itu dalam dirimu. Hayo.
masih bengong di situ? Kenapa tidak menghaturkan sembah dan lekas angkat kaki dari
sini?"
Padmamuka memang tak tahu bahwa sebenarnya Upasara tidak bisa memperdaya dalam
seketika. Keringat dingin mengucur dan wajahnya makin merah. Ia berjongkok. Betul-betul
menghaturkan sembah.
Kalau ada orang luar yang melihat kejadian ini pasti tak percaya pada apa yang dilihatnya.
"Saya mohon diri," kata Padmamuka sambil menggelinding pergi, dalam artian sebenarnya
karena tubuhnya memang bergulung menggelinding.
"Tole, aku mau tangkap mainan ini," seru Dewa Maut yang terus mendesak Jaghana.
"Pulang...." Sayup-sayup terdengar jawaban Padmamuka. Dalam sekejap saja ternyata
Padmamuka telah menggelinding jauh. Entah dengan cara bagaimana tubuhnya bisa menghindar
dari onak dan duri.
"Baik, Tole. Aku tak pernah bisa membantah permintaanmu." Lalu dengan mengibaskan
tangannya, Dewa Maut mendorong lawannya mundur. Ia sendiri meloncat ke atas dan berlalu.
Di tengah udara it sempat mengayunkan tangannya ke segala penjuru.
Upasara tak menduga apa-apa bila saja Ngabehi Pandu tidak bergerak sangat cepat luar
bisa. Tubuhnya berkelebat, kainnya dibuka. dan dengan kain itu ia menangkap apa yang dilemparkan
oleh Dewa Maut. lalu mengembalikan ke arah lawan. Dewa Maut telah berlalu,
dan yang menjadi sasaran adalah pohon di kejauhan.

jaghana
Registered Sellers
Registered Sellers

Jumlah posting : 7111
Join date : 01.07.10
Age : 39
Lokasi : matraman jak-tim 085217314302. pin BB 2843A31C

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  mr.plinstone on Fri 06 Jan 2012, 04:59

Lanjut Mas!

mr.plinstone
kopral
kopral

Jumlah posting : 31
Join date : 13.01.10
Lokasi : LA Wadas Kab. Karawang

Kembali Ke Atas Go down

Link Download

Post  Tamu on Fri 06 Jan 2012, 07:05

Mohon Maaf Mas Eko kalau kurang berkenan. untuk kebaikan bersama, saya edit kembali postingan saya mengenai link download supaya forum lebih rame

Silahkan dilanjut lagi ceritanya Mas.



Terakhir diubah oleh gwdonk tanggal Sat 07 Jan 2012, 04:48, total 1 kali diubah (Reason for editing : Supaya forum lebih rame)

Tamu
Tamu


Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  la ummasa on Fri 06 Jan 2012, 07:35

gwdonk wrote:aku kasih link downloadnya saja, gratis.



file-nya PDF

affraid affraid affraid langsung tamat dah


Terakhir diubah oleh la ummasa tanggal Tue 07 Feb 2012, 06:26, total 1 kali diubah

la ummasa
Premium member
Premium member

Jumlah posting : 621
Join date : 20.05.10
Lokasi : Depok

http://wn.com/laummasa

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  si baret on Fri 06 Jan 2012, 09:04

buat yang ngikutin cerita ini pasti langsung donlot nih, termasuk saya Very Happy Very Happy Very Happy

si baret
Kapten
Kapten

Jumlah posting : 364
Join date : 05.03.11
Lokasi : jakarta, Bintara

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  pacita on Tue 10 Jan 2012, 10:21

la ummasa wrote: affraid affraid affraid langsung tamat dah
dijamin belum bang............. masih ada buku 2 dan 3 nya. kl dah baca buku 2 pasti lebih penasaran u baca buku 3. Banyak filosofi hidup........

pacita
Kolonel
Kolonel

Jumlah posting : 768
Join date : 25.10.10

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  kristianto on Tue 17 Jan 2012, 14:26

lanjuuuuuuuuuttttttttt baaaaannnnggggg

kristianto
Sersan
Sersan

Jumlah posting : 138
Join date : 03.01.12
Age : 35
Lokasi : pati,081317324772

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  jaghana on Wed 18 Jan 2012, 13:54

Upasara melongok melihat perubahan yang menakjubkan. Pohon itu seperti bergoyang.
Dan daunnya yang dekat dengan tanah melayu secara perlahan.
"Iblis jahat, Tunggu..."
"Tahan," seru Ngabehi Pandu yang kini berdiri lurus, kakinya hanya mengenakan celana
sebatas lutut. Kainnya itu lalu dilemparnya jauh. Upasara baru bermaksud mengambil kain
pengganti di kudanya ketika menyadari bahwa ketiga ekor kuda itu sudah lari menjauh. Berlari
kencang sekali, dua di antaranya menabrak pohon hingga tunggang langgang, mengeluarkan
pekikan keras, berkelojotan bangun, dan berlari terus.
Ngabehi Pandu berjalan mendekati Wilanda, memeriksa nadi dan pernapasannya. Lalu
mendekati orang yang berada dalam karung. Memeriksa, sambil mengernyitkan alisnya hingga
beradu. Setelah memencet beberapa nadi, Ngabehi Pandu duduk bersila di tanah. Menempelkan
telapak tangan ke dada orang yang masih mengerang perlahan itu. Erangan itu makin
lama makin pelan.
Jaghana berlutut di sampingnya. Tenaganya seperti habis terkuras, dan ia sedang melakukan
semadi untuk memulihkannya.
Suasana kembali sunyi. Sepi. Hanya bunyi napas teratur. Upasara melihat bahwa Wilanda
masih terbaring pingsan. Ngabehi Pandu masih mengobati, dan Jaghana belum sepenuhnya
bisa menguasai pergolakan tenaganya, karena masih tersengal-sengal. Kalau tadi terlambat
beberapa saat saja, bukan tidak mungkin Jaghana akan mengalami jalan hidup yang berbeda.
Upasara berjaga kalau-kalau ada sesuatu yang tak diinginkan. Sementara itu otaknya
berpikir keras, merangkai kejadian yang baru saja terjadi. Dewa Maut sambil meloncat pergi
karena gusar, sempat melemparkan senjata rahasia, yang bisa ditangkis oleh Ngabehi Pandu.
Tidak seluruhnya karena sebagian dari senjata rahasia itu mengenai kuda. Meski masih muda,
secara teori Upasara telah menguasai banyak hal. Ia tahu bahwa senjata rahasia yang dilemparkan
Dewa Maut mengandung bisa. Bukan sembarang bisa, karena pohon pun bisa layu
secara perlahan, dan kuda jadi gila tak karuan. Lalu menabrak pohon dan nekat lari terus.
Samar-samar Upasara ingat bahwa pasangan Dewa Maut dengan Padmamuka adalah
pasangan yang memang maut. Kalau mereka berkelahi tak pernah meninggalkan lawan tanpa
membunuh! Itulah sebabnya gelar mereka Dewa Maut. Tak ada lawan yang pernah bertempur
dengan mereka pulang dengan selamat.
Mereka berdua terkenal sakti dan juga jahat. Dewa Maut memiliki senjata rahasia yang
diramu dari segala macam bisa ikan sungai. Dengan ramuan khusus yang hanya diketahuinya
sendiri, ia mengambil sari pati sengat dan bisa segala hewan air. Bisa itu dimasukkan ke dalam
tulang ikan. Itulah yang tadi disambitkan ke arah lawan. Orang biasa yang terkena sengatan
seekor ikan saja bisa demam panas-dingin tiga hari tiga malam! Apalagi yang sudah diramu.
Apalagi yang memang dibuat sedemikian rupa untuk membunuh. Entah berapa ratus, atau
ribu, binatang air yang dikorbankan oleh Dewa Maut untuk meramu senjata rahasia! Ini saja
sudah pertanda betapa kejamnya mereka.
Dan kalau seekor kuda terkena menjadi gatal-gatal tak karuan, pohon perlahan bisa layu,
bisa dibayangkan bagaimana sakitnya jika mengenai manusia. Dan pasti juga bukan satu
atau dua senjata saja. Upasara merinding. Korban yang kena itu adalah yang dicoba untuk disembuhkan
Ngabehi Pandu.
Dan sekarang Ngabehi Pandu menggelengkan kepalanya.
"Kenapa tak ditolong, Kisanak?"

jaghana
Registered Sellers
Registered Sellers

Jumlah posting : 7111
Join date : 01.07.10
Age : 39
Lokasi : matraman jak-tim 085217314302. pin BB 2843A31C

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  pacita on Tue 14 Feb 2012, 06:19

jaghana wrote:
pacita wrote:
ada tuh di gramed*** atau toko buku online lainnya. untuk edisi lengkap harga sekitar Rp 350 ribu belum termasuk ongkir. Pencinta sastra indonesia kayaknya wajib nih punya buku ini. Jangan ngaku penggemar arswendo tp gak punya bukunya..... hehehehe
kalau di gramedia matraman sih banyak...tapi gramedia lain apalagi daerah belum tengtu ada coy.....apa perlu ni buku gw bisnisin..?? keeekeeeeeekeeeeeee.... pirat

coba beli disini... toko buku langganan saya...
http://www.bukukita.com/Buku-Novel/Sejarah-Fiksi/84149-Senopati-Pamungkas-%28Box-Set%29.html
Very Happy Very Happy Very Happy

pacita
Kolonel
Kolonel

Jumlah posting : 768
Join date : 25.10.10

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  jaghana on Wed 15 Feb 2012, 07:58

Yang ditolong membuka mata tersenyum. "Tidak usah, Ngabehi. Sudah terlambat. Untuk
apa Ngabehi membuang tenaga percuma? Ini semua tak mengurangi rasa hormat dan terima
kasih kami."
Suaranya bening.
Jaghana menghela napas, membetulkan posisinya, dan duduk di dekat yang terluka.
"Jaghana, adikku..."
"Kakang, tenanglah. Saya akan..."
"Tak perlu. Aku memang tak tahan sakit. Ketika tadi Dewa Maut memaksakan duri ikan
ke dalam mulutku, aku tak tahan rasa sakitnya.. Gatal luar biasa. Makanya kubuka semua jalan
darah, dan kubiarkan semua racun mengalir. Biar aku segera mati. Adikku, jangan sedih.
Kematian menjadi ada, bukan menjadi tidak ada."
Upasara tidak sepenuhnya mengerti kata-kata yang terakhir, tapi ia tak berani mengusik.
"Tak nyana, perguruan yang dibangun Eyang Sepuh puluhan tahun lenyap begitu saja.
Ah, kita belum sempat membantu orang lain. Kamu yang harus meneruskan, Adik Jaghana."
"Kakang..."
"Dengar, adikku. Aku tak bisa bertahan lama. Tugas seluruh perguruan ini ada padamu.
Sampai Eyang Sepuh bisa ditemukan kembali Usahanya tak boleh berhenti. Eyang Sepuh sangat
luhur dan agung jiwanya. Bukankah Wilanda saja masih mau menolong sesama dan berani
mengorbankan dirinya? Ia harus tetap kita akui sebagai saudara sendiri. Kita tak harus
memanggilnya dengan sebutan kisanak. Ah, sebenarnya aku ingin menunggu ia siuman dan
mengatakan ini. Akan tetapi aku kuatir tak bisa bertahan lama. Adikku..." Kalimat itu terhenti
oleh batuk-batuk keras.
Upasara berlutut di samping, lalu menggeser duduknya. Tanpa sengaja ia memangku
kepala yang terluka.
"Anak muda yang mempunyai masa depan hebat. Banyak ksatria yang akan menolong
orang yang memerlukan. Yah, Eyang-andai masih ada. akan merasa bahagia sekali. Sayang,
kita tak tahu di mana Eyang... sayang, banyak yang jahat dan juga sakti.
Aku dibokong, dipaksa mengaku di mana Tamu dari Seberang. Padahal kita semua tak
tahu tamu yang mana... Tak kusangka sama sekali, dua tokoh kenamaan dalam dunia persilatan
begitu curang. Eyang Sepuh mengatakan bahwa menolong orang lain, bahwa berbuat
baik, adalah suatu kebajikan. Sesuatu yang harus dilakukan dengan rela. Bukan karena terpaksa
oleh suatu ajaran. Sesuatu yang biasa. Tetapi justru yang dilakukan Eyang menjadi sesuatu
yang istimewa. Istimewa kalau dibandingkan dengan perbuatan curang dan keji. Ah..."
Suaranya seperti menahan kesakitan yang lebih dalam dari sekadar mengamuknya racun
dalam tubuh. Suaranya mengaduh keperihan.
Upasara melihat orang yang dipangkunya nampak mengerahkan sisa tenaga yang terakhir.
"Aku harus mengatakan ini semua, adikku. Ketika tadi Dewa Maut datang bersama Padmamuka,
mereka menanyakan Eyang. Sambil membawa bingkisan persembahan. Katanya untuk
menjamu Tamu dari Seberang. Aku mengatakan apa adanya bahwa Eyang Sepuh tak ada
di tempat, bahwa kita tak mempunyai Tamu dari Seberang. Aku disergap serentak, dan sebelum
sadar mereka telah bisa melumpuhkanku. Dan mengatakan kalau aku tak mengatakan di
mana Eyang dan di mana Tamu dari Seberang, aku akan diracuni. Kalaupun tahu, aku tak mau
membuka mulut. Tapi Dewa Maut memaksa aku membuka mulut dan menyambitkan senjata
rahasianya.

jaghana
Registered Sellers
Registered Sellers

Jumlah posting : 7111
Join date : 01.07.10
Age : 39
Lokasi : matraman jak-tim 085217314302. pin BB 2843A31C

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  jaghana on Mon 02 Apr 2012, 04:42

“Kemudian aku dimasukkan ke dalam karung kulit kayu. Mereka berdua ingin mem-praktekkan ilmu Pasangan Ikan dengan Keong pada tubuh mereka. Lalu mereka mendengar
suara pertempuran kalian dan aku dibawa kemari. Adikku, jangan berpikir tentang balas den-dam. Aku kalah dan mati karena kesalahanku. Yang harus dilakukan adalah mencari Eyang
dan meneruskan ajarannya. Itu permintaanku. Dan aku akan mati dengan tenang.
“Ngabehi Pandu..."
Ngabehi Pandu menoleh dengan wajah dingin. Tetap dingin.
"Terima kasih atas budi baik Ngabehi. Anak muda, kau mempunyai ilmu yang hebat di
usiamu yang masih muda. Mudah-mudahan..."
Suara batuknya menghentikan kata-katanya.
Terhenti untuk selamanya.
Ngabehi Pandu menghela napas. Jaghana memberi hormat dengan dalam. Lalu perlahan
menutup mata saudara seperguruannya, sambil berbisik di telinga. Dan rasanya air sungai pun
berhenti mengalir.
Hanya helaan napas yang berat.
Selebihnya sepi. Sepi yang diam membeku.
Angin kembali bertiup seperti sediakala.

jaghana
Registered Sellers
Registered Sellers

Jumlah posting : 7111
Join date : 01.07.10
Age : 39
Lokasi : matraman jak-tim 085217314302. pin BB 2843A31C

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  jaghana on Thu 05 Apr 2012, 01:07

[center]BAGIAN 2
SEPERTI tak ada yang berubah. Seperti tak ada yang terjadi. Semua kembali ke keadaan yang
tenang, damai. Suatu perkampungan—yang tak bisa dinamai kampung karena tak ada rumah
satu pun—dilingkari pohon-pohon tinggi, rumput yang lebih tinggi dari lutut.
Upasara tak menemukan perubahan. Juga tidak dengan adanya kuburan seorang anggota
Nirada. Karena sesuai dengan kepercayaan Perguruan Awan, mereka yang meninggal dikubur
tanpa nisan tanda pengenal. Bahkan tanah di atasnya diratakan seperti semula. Rumput dan
ilalang yang tercongkel dikembalikan seperti keadaan aslinya.
Suasana memang seperti sebelumnya.
Hanya manusianya yang berbeda. Wilanda masih jauh dari pulih. Ia masih mengerang
perlahan. Racun dari bisa ikan sungai yang dilepaskan oleh Dewa Maut tetap menyiksanya.
Ngabehi Pandu berusaha menghentikan menjalarnya rasa sakit. Tapi ia sendiri bukan tabib.
Sementara Jaghana menunggui di sebelahnya.
Selebihnya sunyi yang sama.
Ini pertama kalinya Upasara turun ke lapangan. Sebelumnya ia tak pernah meninggal-kan dinding Keraton. Sebagai pemuda yang lagi mekar-mekarnya, rasa hausnya memang tak
bisa dibendung. Segala apa ingin ditenggak—kalau bisa sekaligus.
Pengalaman ini sudah lama ditunggu-tunggu. Sejak masih bocah, Upasara tertarik mem-pelajari ilmu silat. Tak ada yang lebih menyita perhatiannya selain ilmu silat. Pada usia belum
ada sewindu, belum ada delapan tahun. Upasara mampu tapa pati geni. Bertapa hidup tanpa
api. Berada di tempat gelap selama empat puluh hari empat puluh malam. Boleh dikata setiap
harinya dilalui dengan berbagai macam pantangan. Gemblengan dari Ngabehi Pandu yang di-lakukan dengan keras dan secara maraton, membuatnya sebagai ksatria yang boleh dibilang
komplet. Sejak usia dua belas tahun
Upasara hanya keluar dari tempat latihannya setahun sekali. Untuk menjajal ilmunya.
Dengan para prajurit yang lain. Baik satu lawan satu, ataupun dikeroyok. Dengan lawan per-wira yang biasa-biasa, sampai dengan yang pilihan. Dan setiap 33 hari sekali, Ngabehi Pandu
menemuinya untuk menurunkan ilmunya. Memberikan pelajaran satu-dua jurus baru. Selebih-nya mengulang yang lama.
Meskipun boleh dibilang gila silat, Upasara jemu sekali. Itu sebabnya tanpa membantah
ia mengatakan sanggup. Apalagi dikawal langsung oleh Ngabehi Pandu, Dan Wilanda—satu-satunya perwira Keraton yang mengenal Perguruan Nirada. Upasara boleh dibilang tak mene-mukan lawan yang setanding di Keraton.
Akan tetapi begitu terjun ke gelanggang, ia menyadari bahwa apa yang dimiliki selama
ini masih tingkat awal sekali. Boleh dikatakan, sekali pun ia belum pernah menang.
Malah boleh dikata kalah. Beberapa kali, malahan ditolong oleh gurunya sendiri untuk
menyelamatkan nyawa.

jaghana
Registered Sellers
Registered Sellers

Jumlah posting : 7111
Join date : 01.07.10
Age : 39
Lokasi : matraman jak-tim 085217314302. pin BB 2843A31C

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  jaghana on Tue 10 Apr 2012, 01:50

Sebenarnya Upasara tak perlu menggetuni dirinya sendiri. Boleh dikatakan lawan yang
ditemui adalah jagoan kelas tinggi. Dewa Maut dengan Padmamuka misalnya, adalah jagoan
yang tersohor. Bukan nama sembarangan. Apalagi kini sekali masuk, ia berada di Perguruan
Awan yang mempunyai pengaruh begitu luas.
Namun, mudah diduga, Upasara tidak merasa puas.

Justru sebaliknya sangat mendongkol. Darahnya serasa masih berdesir panas. Makanya,
ketika yang lainnya mempergunakan kesempatan untuk beristirahat dan bersemadi, Upasara
melihat sekeliling. Menemukan kudanya yang mati kaku. Lagi-lagi korban racun Dewa Maut.
Kalau beberapa saat lalu disaksikannya sendiri kuda itu lari pontang-panting menabrak ca-bang dan ranting tanpa peduli, kini sudah mati kering. Mata kuda itu membelalak, badannya
kaku kejang. Dari bibirnya seperti keluar ringkik yang tak selesai. Dan tak ada air liur meleleh
—itulah sebabnya Upasara menyebut sebagai mati kering.
Berjalan beberapa tindak lagi, tiba-tiba Upasara mendengar suara-suara. Dengan sigap
ia meloncat ke atas pohon untuk mengawasi keadaan sekitar. Tak begitu sulit memanjat pohon
sampai ke ujung tanpa menimbulkan suara.
Hanya saja, begitu sampai di ujung Upasara terperanjat sekali. Ia tak pernah menduga
bahwa di bagian lain dari tempatnya bertempur, kini sedang terjadi sesuatu yang lebih besar.
Bagaimana mungkin ia bisa tak mengetahui?
Memang apa yang dilihat Upasara cukup membuat heran.
Di sebuah lapangan yang rada luas, tapi masih tetap dikelilingi pohon tinggi, berdiri se-puluh perwira Keraton. Dalam keadaan siap siaga dengan tombak dan tameng. Agak jauh di
belakang mereka ada seorang pemimpin yang naik kuda. Kuda hitam mulus. Sekelebatan,
Upasara bisa mengenalinya sebagai Senopati Suro, Kepala pasukan Keraton. Mana mungkin
bisa sampai kemari lebih dulu, pikir Upasara. Rasanya, Ngabehi Pandu memberitahukan bah-wa ini tugas rahasia dari Keraton. Boleh dikata tak ada yang tahu. Tapi nyatanya, jelas omong
kosong, Karena Senopati Suro sudah mengerahkan sepuluh pengawalnya yang terbaik. Agak
di belakang ada sebuah tandu tertutup. Upasara tidak bisa memastikan siapa yang ada di da-lamnya.
Tapi ini pasti hebat. Ia sendiri berkuda siang-malam. Boleh dikatakan tanpa berhenti
untuk makan atau mandi. Eh, toh ada rombongan lain yang juga dari Keraton serta memakai
tandu. Apa bukan luar biasa?
"Kami datang dengan baik-baik. Tetapi kalau tuan rumah tak mau menyambut, jangan
salahkan kami yang berlaku kurang ajar," Senopati Suro menyepit perut kuda hitamnya. Yang
seperti busur panah melesat ke depan.
Baru kini Upasara bisa melihat jelas. Ternyata di lapangan itu ada beberapa kelompok.
Selain pasukan Senopati Suro juga ada tiga kelompok lain. Salah satu kelompok berjalan de-ngan seenaknya maju ke tengah.
"Aha, kalau negara sudah ikut campur, urusan ini bakalan ramai. Ramai sekali. Tetapi
untuk apa berkaok-kaok seperti itu. Semut bisa takut lihat kuda gagah, tetapi manusia bukan-lah semut. Tak bisa ditakuti seperti anak kecil. Hai, penunggang kuda yang gagah, apa mak-sudmu berteriak seperti itu?"
Upasara melengak. Benar-benar aneh dunia silat ini. Kalau di Keraton segalanya serba
teratur, serba penuh tata krama, tapi kayaknya di sini tak ada aturan apa-apa. Boleh main tegur
sekenanya.
Siapa kira seorang yang setengah baya, berpakaian penduduk biasa, berani menggertak
seorang senopati?
"Maaf, kami tak ada urusan dengan kalian. Kami ingin bertemu tuan rumah."
"Astaga, sebagai sesama tetamu kenapa mesti berbuat kasar? Kami juga tetamu yang
justru datang lebih dulu. Kenapa yang datang belakangan minta dilayani lebih dulu? Apa ka-rena ia senopati Keraton sehingga bisa dan boleh berbuat semaunya?

jaghana
Registered Sellers
Registered Sellers

Jumlah posting : 7111
Join date : 01.07.10
Age : 39
Lokasi : matraman jak-tim 085217314302. pin BB 2843A31C

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  jaghana on Tue 02 Apr 2013, 08:36

"Aku tak bisa melihat cara-cara seperti ini. Kalian harus antre dengan baik."
Dua prajurit yang di depan bereaksi. Akan tetapi Senopati Suro memberi tanda untuk
bersikap tenang.
"Saya datang kemari ngemban dawuh, mengemban sabda raja, tidak ada waktu untuk
bermain-main. Maaf, bisa kita lanjutkan pada kesempatan yang lain. Kami bukan tak kenal
dengan Tiga Pengelana Gunung Semeru yang terhormat. Kami bukan tak gatal untuk menjajal
nama besar, akan tetapi sekarang bukan saatnya."
Lelaki yang disebut sebagai anggota Tiga Pengelana Gunung Semeru tertawa lebar.
"Siapa minta dilayani? Siapa minta bermain? Saya hanya bilang kalau mau bertemu de-ngan tuan rumah, harap pakai aturan yang benar. Kita datang lebih dulu. Bukan begitu?"
Pertanyaannya entah ditujukan kepada siapa. Karena tak ada yang menjawab dan tak
ada yang bereaksi.
Di atas pohon, Upasara merasa bergirang hati. Ia mengetahui dari Wilanda tentang to-koh-tokoh dunia silat. Tiga Pengelana Gunung Semeru termasuk yang disegani. Terutama jika
ketiganya maju secara bersamaan membentuk Barisan Trisula. Mereka ini terdiri atas tiga
orang yang selalu pergi bersama-sama. Malah menurut beberapa sumber ketiganya masih sau-dara kandung. Nama mereka tak terlalu sulit, karena merupakan urutan persaudaraan. Yaitu
Kakang Mbarep—si sulung, Panengah—yang kedua, serta Wuragil—yang paling berangasan
sifatnya.
Namun seperti pendekar yang lain, selama ini meskipun namanya pengelana, mereka
sudah sejak lima tahun terakhir tak ada kabar beritanya. Karena memusatkan diri di Gunung
Semeru. Boleh dikatakan, meskipun ketiganya termasuk jagoan, akan tetapi karena lebih ba-nyak berkutat dengan diri sendiri, pengaruhnya tak begitu terasa. Bahkan dalam kurun waktu
terakhir ini boleh dikata tak ada yang membicarakan lagi.
Tetapi bagi Upasara lain soalnya. Ia sedang kesengsem untuk bermain silat. Apalagi dari
Ngabehi Pandu ia pernah mendengar tentang Barisan Trisula yang termasuk disegani. Maka-nya ia ingin agar terjadi bentrokan segera dengan Senopati Suro. Namun yang terakhir ini
nampaknya masih bisa menahan diri.
"Kalau yang tua tak tahu aturan, kapan lagi bisa mati dengan tenang?"
Ini baru kejutan. Kalau yang mengatakan itu seorang jago masih masuk akal. Tapi sekali
ini semua yang hadir dibuat melengak. Karena yang mengatakan adalah seorang bocah yang
masih bau ingus. Benar-benar bau ingus, karena di bagian bawah hidung nampak kotoran. Pa-kaiannya kelewat dekil. Kalau tidak betul-betul diperhatikan, agak susah membedakan dia le-laki atau perempuan. Hanya kain kembennya yang menutup sebagian dada yang memperlihat-kan ciri-ciri kewanitaannya.
"Oho, ada kuntilanak mana membiarkan anaknya keluyuran seperti ini?" Suara Wuragil
belum selesai, ketika si gadis kecil mengayunkan tangannya. Lembut, indah, bagai seorang
sedang menari. Hanya saja Wuragil cepat menghindar dan balik menyerang. Semua yang
hadir rada bercekat. Bukan karena apa, tapi karena Wuragil ternyata sangat telengas. Sekali
gebrak tangannya mencowel bagian dada.
Ini jelas kurang ajar.
Walaupun tak ada aturan tertulis, semua pendekar atau jago silat tak begitu mudah me-ngumbar serangan yang menjijikkan. Boleh dikatakan tak bakal menyerang bagian yang me-langgar kesusilaan. Maka termasuk aneh kalau Tiga Pengelana Gunung Semeru, yang selama
ini punya nama baik, bisa melakukan hal yang rendah.

jaghana
Registered Sellers
Registered Sellers

Jumlah posting : 7111
Join date : 01.07.10
Age : 39
Lokasi : matraman jak-tim 085217314302. pin BB 2843A31C

Kembali Ke Atas Go down

Re: SENOPATI PAMUNGKAS oleh Arswendo Atmowiloto

Post  Sponsored content Today at 20:00


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Halaman 3 dari 3 Previous  1, 2, 3

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik